Skip to main content
Napas Yang Terancam: Mengapa Polusi Udara Bikin Kasus Batuk dan Sesak Napas Melonjak Sampai Jutaan? - Institut Saefulloh Maslul Sirnarasa
Umum

Napas Yang Terancam: Mengapa Polusi Udara Bikin Kasus Batuk dan Sesak Napas Melonjak Sampai Jutaan?

Napas Yang Terancam: Mengapa Polusi Udara Bikin Kasus Batuk dan Sesak Napas Melonjak Sampai Jutaan?

Oleh: Dewi Lestari (Siswa STID Sirnarasa)

Saya masih ingat betul kejadian hari Sabtu tanggal 27/12/2025 kemarin. Sekitar pukul 07.30 WIB pagi, saya sudah bersiap-siap untuk berangkat karena sudah ditunggu oleh teman saya. Kami berencana melakukan perjalanan menuju Tasikmalaya untuk sebuah kegiatan observasi ke radar TV. Awalnya, saya mengira perjalanan pagi akan terasa menyegarkan, namun kenyataannya justru sebaliknya. Baru sebentar di atas motor, udara sudah terasa sangat panas dan menyesakkan. Perjalanan kurang lebih 2 jam itu benar-benar menjadi ujian fisik karena paparan polusi yang luar biasa sepanjang jalan. Di sepanjang jalan menuju lokasi, pemandangan yang saya lihat bukanlah langit biru, melainkan asap knalpot dari bus, truk, dan ribuan kendaraan pribadi lainnya. Debu jalanan berterbangan tak karuan. Masuknya oksigen bersih pun rasanya seperti hilang, digantikan oleh aroma asap yang menyesakkan tenggorokan, dan bukan hanya itu saja yang saya rasakan, saya juga merasakan mata perih selama perjalanan. Bahkan sesampainya di lokasi observasi pun, suasananya tetap tidak nyaman; terasa sangat panas dan "engap". Udara seolah-olah tidak bergerak, membuat dada terasa tertekan meskipun saya sudah berusaha bernapas sedalam dalamnya.

Perjuangan belum berakhir. Kami pun pulang saat matahari tepat di atas kepala, sekitar jam11.30 WIB siang. Panasnya saat itu benar-benar luar biasa, bahkan saat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di masjid sekaligus sholat dzuhur, masjid itu ada di daerah Panumbangan, hawapanas tetap terasa mengurung bangunan masjid itu. Namun, momen yang paling mengejutkan adalah saat saya akhirnya sampai di rumah. Begitu saya bercermin dan mengusap wajah, saya syok melihat kotoran hitam pekat yang menempel pada wajah saya. Tidak hanya di wajah, ternyata di sela-sela kukusaya pun ikut menghitam karena debu polusi. Di situ saya merasa ngeri, jika wajah dan kuku saja bisa sehitam itu dalam waktu beberapa jam, lalu bagaimana dengan kondisi paru-paru saya yang menghirup udara itu di sepanjang jalan? . Rasanya sangat mengerikan saat membayangkan racun-racun itu masuk ke tubuh kita tanpa kita sadari.

Kekhawatiran saya ini ternyata bukan tanpa alasan. Jika kita melihat berita di media sosial seperti Tempo.co. Ternyata kualitas udara kita memang sedang berada pada level yang mengkhawatirkan. Data menunjukkan bahwa angka penderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir bahkan "Satu Juta Warga Jakarta Terpapar ISPA Akibat Polusi", ini membuktikan bahwa partikel berbahaya di udara bukan sekadar debu biasa, tapi “racun”yang siap merusak kesehatan jutaan orang, bahkan bukan hanya penyakit pernafasan saja. Kenapa demikian? Karena menurut Policy & Advocacy Manager CISDI, Fachrial Kautsar, mengatakan bahwa paparan intensif terhadap polusi udara memberikan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat. “Tidak hanya menyebabkan penyakit pernafasan, tetapi juga penyakit kardiovaskuler dan penurunan fungsikognitif,” kata Fachrial dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 6 Desember 2025.

Melihat kondisi ini, siapa yang salah? pemerintah kah? Pabrik kah? Atau kendaraan?Jawabannya Menurut pendapat saya, kita tidak bisa hanya saling menyalahkan. Tanggung jawab terbesar ada pada diri kita masing-masing sebagai masyarakat. Karea kita semua punya peran dan kita juga yang menggunakan kendaraan setiap hari. Jadi, tanggung jawabnya ada di tangan kita semua. Kita sering protes udara kotor, tapi kita sendiri masih malas merawat kendaraan dan menjaga lingkungan di sekitar kita, bahkan tanpa kita sadari kita adalah penyumbang polusi itu sendiri, dan selama kita tidak sadar, masalah ini tidak akan pernah selesai. Dan selama kita tidak mau untuk mengurangi emisi, masalah polusi ini akan terus menghantui setiap embusan napas kita.

Namun di sisi lain, peran pemerintah sangatlah krusial. Pemerintah tidak boleh hanya diam atau sekadar mengeluarkan himbauan formalitas saja. Menurut saya, pemerintah harus lebih aktif mengingatkan masyarakatnya untuk menjaga lingkungan dan kendaraan mereka. Lebih dari itu, sebagai pemimpin, mereka harus memberikan contoh nyata. Pemerintah adalah teladan bagi masyarakatnya, Jika pemerintahnya saja terlihat cuek atau tidak memberikan solusi konkret, seperti pengadaan transportasi umum yang bersih atau aturan emisi yang tegas, maka masyarakat juga akan sulit untuk ikut bergerak. Bahkan pemerintah juga harus hadir sebagai penggerak utama dalam menjaga kualitas hidup rakyatnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut menurut saya kita harus mulai saling menjaga. Kita harus sadar untuk selalu memakai masker saat keluar rumah agar tidak langsung menghirup udara yang kurang baik di perjalanan, Menjaga lingkungan, dan perlu kita sadari menjaga lingkungan bukan hanya tugas satu orang, tapi tugas kolektif. Kita perlu melakukan langkah nyata, mulai dari merawat mesin kendaraan supaya asapnya tidak hitam, hingga beralih ke gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Pengalaman wajah dan kuku yang hitam setelah perjalanan ke Tasik adalah alarm keras bagi saya. Kita tidak boleh menganggap remeh masalah polusi ini sebelum jatuh korban yang lebih banyaklagi. Pemerintah harus tegas dan memberi contoh, dan kita sebagai masyarakat harus mulai sadar akantanggung jawab kita. Jangan sampai kelak kita harus membayar mahal hanya untuk menghirup satuembusan napas yang bersih. Mari kita bergerak sekarang, sebelum napas kita benar-benar terancam selamanya.