Disusun oleh Fauzan Aliyudin Komunikasi Penyiaran Islam 03 Januari 2026
Indonesia Asasmen Pendidikan Agama Islam (PAI) 2025 oleh Kementrian Agama mengungkap fakta bahwa 58,26 persen guru PAI belum fasih membeca al-quran, dengan indeks 57,17 yang tergolong rendah. Data ini mencerminkan krisis mendasar diranah pendidikan keagamaan dasar, di mana guru sebagai ujung tombak justru terhambat dalam mentransfer ilmu tajwid kepada siswa. Isu aktual ini, yang muncul akhir Desember 2025, menuntut intervensi segera agar genersai muda tidak kehilangan kemampuan tartil membaca al-qur’an.
Dampak pada Siswa dan Sistem Pendidikan
Kemampuan membaca Al-Qur’an siswa SD didominasi kategori dasar karena guru sering terbata bata dalam tajwid, menghambat proses pembelajaran efektif. Fenomena ini memperburuk kebodohan umat islam generasi muda terhadap Al-Qur’an, sebagaimana diakui dalam studi problematika penerapan tajwid di Indonesia, dan minimnya bimbingan orang tua dan sekolah menjadi pemicu utama. Akibatnya, pendidikan agama islam di sekolah umum yang wajib dalam kurikulum nasional gagal dalam membentuk literasi al quran yang berkualitas, memicu degradasi moral dan spiritual anak.
Analisis Penyebab Utama Dan Solusi kebijakan
Penyebab utama adalah kurangnya penguatan profesional guru PAI, termasuk pemahaman hukum bacaan tajwid menjadi indikator rendah dalam asesmen Kementerian Agama merespons dengan menjadikan literasi Al-Qur'an sebagai syarat rekrutmen, sertifikasi, dan pengembangan karir guru PAI, serta reorientasi program sertifikasi berbasis asesmen nasional berkala. Namun, solusi ini perlu dilengkapi kemitraan dengan pesantren dan PTKI untuk pelatihan intensif, mengingat tantangan serupa juga muncul di tengah efisiensi anggaran pendidikan 2025 yang memangkas beasiswa dan program penguatan SDM.
Simpulan dan Rekomendasi
Berdasarkan temuan asesmen dan realitas di lapangan, rendahnya literasi Al-Qur’an pada siswa pendidikan dasar tidak dapat dilepaskan dari lemahnya kompetensi tajwid guru PAI sebagai aktor utama pembelajaran. Ketika guru belum fasih membaca Al-Qur’an secara tartil, proses transmisi ilmu keagamaan menjadi tidak optimal dan berimplikasi pada rendahnya kualitas pemahaman serta penghayatan siswa terhadap Al Qur’an. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan literasi Al-Qur’an bukan sekadar isu individual, melainkan masalah struktural dalam sistem pendidikan agama Islam di sekolah umum yang memerlukan intervensi serius dan terarah.
Sebagai langkah strategis, penulis merekomendasikan penerapan metode Qiroati sebagai salah satu pendekatan pembinaan tajwid bagi guru PAI SD, karena metode ini menekankan ketepatan bacaan sejak tahap dasar, sistem pembelajaran bertahap, serta mekanisme tashih dan standarisasi pengajar yang ketat. Qiroati relevan digunakan dalam program peningkatan kompetensi guru karena berorientasi pada praktik dan akurasi, bukan sekadar penguasaan teori, sehingga mampu menjawab persoalan rendahnya kemampuan baca Al-Qur’an secara konkret. Integrasi metode Qiroati ke dalam pelatihan guru PAI baik melalui kemitraan dengan lembaga pesantren maupun dukungan teknologi pembelajaran diharapkan dapat memperkuat fondasi literasi Al-Qur’an di pendidikan dasar dan mencegah terjadinya degradasi moral serta spiritual generasi muda di masa depan.